Penyuluhan Bahasa

Foto kegiatan penyuluhan bahasa Indonesia di SMP dan SMA di daerah perdesaan.
Transportasi melalui sungai Kahayan dengan bus air. Kegiatan yang dilaksanakan ini merupakan kegiatan dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Penyuluhan dilaksanakan setiap satu tahun sekali semester ganjil. Kegiatan penyuluhan bertujuan mendidik mahasiswa bahasa Indonesia siap mental baik dari  penguasaan bahan pembelajaran, penguasaan kelas, mental mahasiswa/individu, kemandirian, kebersamaan, dan menyuluh tentang bahasa dan sastra bagi murid-murid di sekolah. Penyuluhan dimulai beberapa tingkat, yang pertama: (1) semester satu (mahasiswa baru) sebagai pengamat, (2) semester tiga sebagai penyuluh awal sekaligus panitia penyuluhan, (3) semester lima sebagai penyuluh kedua, (4) semester tujuh sebagai penyuluh ketiga (terakhir), dan (5) semester sembilan sebagai pengarah dalam penyuluhan. Diharapkan dengan adanya penyuluhan mahasiswa sudah siap baik dalam kegiatan PPL, KKN, seminar proposal, dan skripsi tanpa ada hambatan saat praktiknya.. 

BAHASA SEBAGAI JATI DIRI BANGSA

1. Bahasa menunjukkan bangsa
Dalam konteks Indonesia dan berbagai hal yang menyangkut keindonesiaan, pengajiulangan terhadap “butir mutiara” itu akan tetap penting dan selalu relevan, terutama sehubungan dengan ciri keindonesiaan yang multietnis, multikultural, dan (yang berakibat pada) multilingual.
Dua hal yang menyangkut perilaku bahasa. Pertama, pada saat kita berbahasa Indonesia seharusnya kita menggunakannya sedemikian rupa sehingga jati diri kita sebagai bangsa Indonesia tetap tampak dan terjaga. Kedua,pada saat kita menggunakan bahasa daerah, hendaknya bahasa daerah yang kita gunakan itu juga mencerminkan jati diri keetnisan kita masing-masing. Dengan kata lain, jati diri sebagai bangsa ataupun suku bangsa/kelompok etnis perlu ditampilkan dalam setiap pandangan, sikap, dan perbuatan yang salah satu bentuk pengungkapannya adalah perilaku berbahasa.
2. Pemahaman kita terhadap jati diri bangsa lazim menggunakan konsep kebudayaan (dalam arti seluas-luasnya) sebagai kerangka acuan.
Apabila jati diri itu diukur dengan menggunakan parameter perilaku berbahasa, maka konsep kebudayaan itu perlu difokuskan pada seberapa jauh acuan yang lazim disebut faktor sosial budaya. Dampak faktor sosial budaya terhadap perilaku berbahasa ini, seharusnya tidaklah sama anata persoalan yang diakibatkan oleh pemakaian bahasa Indonesia dan bahasa daerah kelompok etnisnya yang sangat dipengaruhi dan diwarnai oleh hubungan emosional yang bersangkutan terhadap kedua jenis bahasa itu.
3. Mealui butir ke-3 Sumpah Pemuda 1928, bahasa Melayu telah di angkat sebagai bahasa persatuan bahasa Indonesia dengan nama bahasa Indonesia. Meskipun sesungguhnya butir ke-3 Sumpah Pemuda itu merupakan pernyataan bersifat politis. Bahasa Indonesia bahkan mempunyai kedudukan yang lain, yaitu sebagai bahasa negara (Pasal 36 UUD 1945). Yang penting dalam hali ini adalah penjelasanya yang menyebutkan bahwea bahasa-bahasa daerah yang dipelihara secara baik-baik oleh rajyatnya akan dihormati dan dipelihara juga oleh negara. Selain itu, disebutkan juga bahwa bahasa-bahsa daerah itu juga merupakan sebagian kebudayaan Indonesia yang hidup.
Secara sederhana hal itu dapat diartikan bahwa bahasa daerah yang bersangkutan digunakan sebagai alat perhubungan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat daerahnya.
4. Upaya mencerdaskan kehidupan berbangsa perlu terus dilakukan dalam berbagai sektor kehidupan dengan mengoptmalkan potensi dan pemanfaatan bahasa Indonesia sebagai bahsa negar. Pengoptimalan potensi bahasa Indonesia mengandung makna ganda, yaitu pemantapan norma bahsa yang dibarengi pemerkayaan kosakata berikut peristilahanya. Diupayakan melalui pemanfataan sumber-sumber di luar bahasa Indonesia, baik yang terdapat dalam bahasa daerah maupun bahasa asing.
Melalui pemantapan norma bahsa dan pemerkayaan kosakata serta peristilahanya itu, bahasa Indonesia diharapkan tetap berperan sebagai alat pengungkap yang efektiuntuk berbagagai pikiran, pandangan, dan konsep. Pemerkaya kosakata dan peristilahan bahasa Indonesia merupakan proses yang sudah sangat alamiah sifatnya dalamsetiap peristiwa kontak bahasa. Yang perlu diupayakan ialah agar bahasa yang berstatus lemah menggali dan memanfaatkan sumber-sumber kekayaan bahasa yang berstatus kuat untuk kepentingan diri nya tanpa harus mengorbankan identitas atau jati dirinya. Adapun istilah dan kata yang sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia harus kita indari pemakaiannya karena hali itu akan mengotori atau mencemari ciri keindonesiaan bahasa persatuan dan bahsa negara kita. Pemantapan norma bahsa dan pemerkayaan kosakata berikut peristilahannya itu harus diupayakan tanpa harus mengorbankan ciri keindonesiaan bahasa indonesia sebagai lambang jati diri bangsa.
5. Kecendrungan sosiolingustik yang senantiasa bergerak mengikuti perubahan sosial budaya itu, bila dihubungkan dengan pemakaian bahsa Indonesia dan bahasa daersh, akan tetapi jelas memperlihatkan perbedaan peran di antara kedua jenis bahasa itu. Kita dapat pula menentukan dan menarik garis pembatas yang transparan dalam pemakaian bahasa Indonesia dan bahsa daerah dengan tolok ukur sikap batin, hubungan emosional, dan tingkay keakraban yang sesuai untuk jenis bahasa yang akan digunakan.
Sejalan dengan hal itu, mutu pemakaian bahasa Indonesia pada gilirannya harus pula dipertanyakan dengan menggunakan tolok ukur “keindonesiaan”. Yang dapat diupayakan untk dihindari adalah interferensi leksikal dan gramatikal. Upaya untuk mengatasi interferensi leksikal harus lebih diprioritaskan daripada yang gramatikal, teruama apabila kita sedang berbicara terhadapkhalayak yang bahasa ibunya belum tentu sama dengan bahasa ibu kita.
6. Interferensi leksikal dari bahasa daerah yang terjadi ketika seseorang tengah berbahasa Indonesia itu perlu dilihat dari wacana komunikasinya itu sendri agar kita terhindar kecerobohan yang akan membawa kira kepada semacam penilaian ang bersangkutan dengan serta merta dianggap orang yang tidak menjunjuung bahsa persatuan bahasa Indonesia. Wacana komunikasi yan dimaksudkan paling tidak berhuungan dengan dua hal, yakni tingkat keresmiannya dan usia serta status sosial para peserta komunikasi. Interferensi leksikal itu seharusnya tidak boleh terjadi dalam situasi komunikasi yang tingkat keresmiaanya tinggi.
Agar ketika seseorang sedang berbahasa Indonesia, yang bersangkutan tetap menyadari ciri keindonesiaannya. Dengan perkataan alin, yang diharapkan dari seseorang yang tengah berbahasa Indonesia dalam situasi pemakaian yang resmi itu ialah adanya sikap batin, hubungan emosional, dan keakraban yang memadai terhadap bahsa yang digunakannya sehingga setelah itu kita lalu dapat mengidentfikasi nya sebagai ciri keindonesiaan dari dari yang bersangkutan.
7. Fenomena kebahasaan yang menarik diamati ialah adanya semacam tarik-menarik antara cciri keindonesiaan dan ciri kedaerahan pada diri seseorang yang sedang berbahasa Indonesia di depan khalayak umum. Ketiga aspek yang telah disebutkan, yaitu sikap batin, hubungan emosional, dan keakraban menentukan kecenderungan berbahasa yang pada dasarnya akan menentukan bersangkutan lebih condong kepada ciri keindonesiaan atau ciri kedaerahanya.
8. Semua pihak yang harus mengambil posisi dan peran yang ccok untuk menerjemahkan butir ke-3 Sumpah Pemuda 1928. Para ahli bahasa berkewajiban mengembangkan bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi yang mantap dan modern. Para guru, wartawan, pengarang, dan tokoh masyarakat serta pejabat negara perlu menyadari dirinya sebagai tokoh yang akan diteladani oleh masyarakat luas dalam hal bebahasa. Sementara itu, masyarakat umum diharapkan untuk memperlihatkan sikapnya yang positif terhadap bahasa Indonesia.

Cerita Rakyat

Cerita Rakyat Kalimantan Tengah

Kutukan Raja Pulau Mintin

Pada zaman dahulu, terdapatlah sebuah kerajaan di Pulau Mintin daerah Kahayan Hilir, Kalimantan Tengah. Kerajaan itu sangat terkenal akan kearifan rajanya. Akibatnya, kerajaan itu menjadi wilayah yang tenteram dan makmur.
Pada suatu hari, permaisuri dari raja tersebut meninggal dunia. Sejak saat itu raja menjadi murung dan nampak selalu sedih. Keadaan ini membuatnya tidak dapat lagi memerintah dengan baik. Pada saat yang sama, keadaan kesehatan raja makin menurun. Agar mengatasi situasi itu, raja berniat untuk pergi berlayar guna menghibur hatinya.
Untuk melanjutkan pemerintahan maka raja itu menyerahkan tahtanya pada kedua anak kembarnya yang bernama Naga dan Buaya. Mereka pun menyanggupi keinginan sang raja. Sejak sepeninggal sang raja, kedua putranya tersebut memerintah kerajaan. Namun sayangnya muncul persoalan mendasar baru. Kedua putra raja tersebut memiliki watak yang berbeda. Naga mempunyai watak negatif seperti senang berfoya-foya, mabuk-mabukan, dan berjudi. Buaya memiliki watak positif seperti pemurah, ramah tamah, tidak boros dan suka menolong. Melihat tingkah laku si Naga yang selalu menghambur-hamburkan harta kerajaan, maka si Buaya pun marah. Karena tidak bisa dinasehati maka si Buaya memarahi si Naga. Tetapi rupaya Naga ini tidak mau mendengar. Pertengkaran itu berlanjut dan berkembang menjadi perkelahian. Prajurit kerajaan menjadi terbagi dua, sebagian memihak kepada Naga dan sebagian memihak pada Buaya. Perkelahian makin dahsyat sehingga memakan banyak korban. Dalam pelayarannya, Sang raja mempunyai firasat buruk. Maka ia pun mengubah haluan kapalnya untuk kembali ke kerajaanya. Betapa terkejutnya ia ketika menyaksikan bahwa putera kembarnya telah saling berperang. Dengan marah ia pun berkata, ”kalian telah menyia-nyiakan kepercayaanku dengan peperangan ini kalian sudah menyengsarakan rakyat untuk itu terimalah hukumanku. Buaya jadilah engkau buaya yang sebenarnya dan hidup di air, karena kesalahanmu yang sedikit maka engkau akan menetap di daerah ini. Tugasmu adalah menjaga Pulau Mintin. Lalu engkau naga jadilah engkau naga yang sebenarnya karena kesalahanmu yang besar engkau akan tinggal di sepanjang sungai Kapuas. Tugasmu adalah menjaga agar sungai Kapuas tidak ditumbuhi Cendawan Bantilung.”
Setelah mengucapkan kutukan itu, tiba-tiba langit gelap dan petir menggelegar. Sekejap kemudian kedua putranya telah berubah wujud. Satu menjadi buaya dan yang satunya lagi menjadi naga.
(Diadaptasi secara bebas dari Lambertus Elbaar, “Kutukan Raja Pulau Mintin,”Sumber: http://www.seasite.niu.edu

Mahaji dan Kura-kura

Dahulu kala, hiduplah seorang petani yang bercukupan dengan memiliki ladang yang luas dan subur. Petani tersebut sering dipanggil Mahaji. Sehari-harinya Mahaji menunggu ladang yang sebentar lagi akan panen besar.
Suatu ketika, Mahaji sibuk dengan pekerjaannya mencari ikan di sungai sehingga ladangnya tidak dijaga. Tak lama kemudian dari balik rimbunan semak belukar muncul dua binatang yang sedang cari makan menuju ladang Mahaji. Ternyata kedua binatang tersebut Kancil dengan kura-kura. Setelah melihat Mahaji tidak ada di ladang maka barulah mereka masuk ke ladang Mahaji. “Kita makan apa dahulu?” kata Kura-kura kepada Kancil. Mendengar kata kura-kura, kancil pun menjawab, “makan cabe saja dahulu karena cabe kesukaanku.” Mereka pun makan cabe terlebih dahulu dan kura-kura pun ikut makan cabe seperti kancil. Karena asiknya makan cabe, kancil pun bersuara sedikit nyaring akibat pulutnya terasa pedas sekali. “Sit ah…”, mendengar hal itu kura-kura pun menegur kelinci. “Jangan keras-keras suaranya, nanti Mahaji mendengar.” Kelinci tidak peduli kata kura-kura, bahkan suaranya semakin keras saja. “Sit ah……, pedasnya cabe punya Mahaji”.
Mendengar suara aneh dari arah ladangnya, Mahaji yang sedang asik mencari ikan di sungai yang kebetulan tidak jauh dari sungai pun setengah berteriak. “Siapa yang ada di ladangku!”.
Mendengar suara Mahaji, tiba-tiba tubuh kancil dan kura-kura gemetaran. Tubuh kancil dan kura-kura terasa lemas dan tidak berdaya. Kura-kura pun berkata, “apa aku bilang tadi jangan keras-keras.” Kancil yang sudah ketakutan tidak peduli kata kura-kura, tanpa sadar kancil lari terbirit-birit menuju hutan agar tidak ketahuan oleh Mahaji. Melihat kancil lari meninnggalkanya, kura-kura hanya pasrah karena ia tidak bisa berlari cepat.
Mendengar tidak ada yang menjawab, Mahaji pun berlari ke arah ladang untuk mencari asal suara. Setiap tanaman dilihat Mahaji, siapa tahu ada orang yang mengambil tanamannya. Tidak berapa lama kemudian Mahaji melihat kura-kura yang sedang meninggalkan ladangnya dengan membawa cabe. Melihat itu, marahlah Mahaji. “Berani sekali kamu mencuri cabe milikku!” sambil setengah berteriak, kata Mahaji. “Ampun Mahaji, aku tidak bersalah, kancillah yang mencurinya. Aku kebetulan lewat dan melihat cabe yang berserakan maka aku ambil.” Mahaji tetap tidak peduli, sambil berkata “kamu tidak perlu beralasan, nyatanya kamu yang ada di ladangku tidak ada yang lain.”
Amarah Mahaji masih juga belum reda karena kura-kura berani mencuri cabe yang sebentar lagi mau dipanennya. Setelah sampai rumah, kura-kura langsung digantung di bawah tangga rumahnya. Kura-kura tiba-tiba tertawa, “ha..ha..ha…, enak rasanya seperti di ayun”. Mendengar kata kura-kura, Mahaji langsung marah dan membawa kurra-kura ke dapur untuk dibakar. Kembali lagi kura-kura berkata, “apa kamu tidak tahu bahwa aku tidak mempan dibakar, coba kamu lihat rumhku yang hitam ini.” Marah Mahaji semakin memuncak, “kalau begitu aku lempar kamu ke sungai” kata Mahaji. Mendengar hal itu, kura-kura pun pura-pura ketakutan. “Ampun Mahaji aku tidak mau, nanti aku mati tenggelam” kata kura-kura sambil minta belas kasihan Mahaji. Mendengar kata kyra-kura Mahaji tidak peduli dan langsung di lemparnya ke sungai. “Buurr!”, tenggelamlah kura-kura akibat lemparan Mahaji yang sedikit keras.
Tidak lama kemudian muncullah kura-kura ke permukaan air sambil tertawa, “ha..ha..ha…, dasar bodoh memang tempat aku di air mana bisa mati.” Mendengar kata kura-kura, Mahaji menyesal karena terlalu menuruti amarahnya sehingga tidak berpikir dahulu (DAS Barito).

Tokoh dalam cerita
Mahaji (petani), Kura-kura, dan Kancil.
Perwatakan
Mahaji
Seorang petani yang memiliki sifat mudah marah dan terlalu tergesa-gesa mengambil keputusan dalam bertindak.
Kura-kura
Binatang yang memiliki akal cerdik.
Kancil
Binatang yang tidak suka mendengar nasehat orang ain.

Latar atau tempat kejadian
Kejadian terjadi di ladang Mahaji, rumah Mahaji dan di sungai.

Nilai moral cerita
a. Tindakan Mahaji yang mudah marah karena tanamannya dicuri kancil dan kura-kura. Tindakan
yang mudah marah dapat mengakibatkan kehilangan akal pikiran dalam bertindak yang pada akhirnya menjadi penyesalan tidak patut diteladani.
b. Tindakan kancil yang tidak pernah menuruti nasehat kura-kura. Tindakan yang tidak mau menuruti
nasehat orang lain demi kebaikan diri sendiri tidak patut diteladani.
c. Tindakan kura-kura menghadapi kemarahan Mahaji. Tindakan yang menggunakan akal patut
diteladani tetapi harus sesuai dengan kebenaran.
d. Tindakan kancil dan kura-kura mencuri tanaman Mahaji tidak patut diteladani karena mengambil
hak orang lain. Kalaupun mau makan, seharusnya kancil dan kura-kura minta secara langsung dengan Mahaji bukan mencurinya.

Ilmu Perpustakaan

A. Pengertian Perpustakaan Daerah (wilayah)
Perpustakaan Daerah (wilayah) adalah ruang atau tempat yang digunakan untuk menyimpan dan mengoleksi buku-buku untuk dibaca dan dipinjamkan kepada pelajar dan masyarakat umum. Buku-buku yang disediakan oleh perpustakaan daerah mulai dari buku pelajaran, majalah, bisnis, kamus, dan lain-lain.
B. Pengertian Perpustakaan Unpar
Perpustakaan Unpar adalah ruang atau tempat yang digunakan untuk menyimpan dan mengoleksi buku-buku untuk dibaca dan dipergunakan kepada pelajar khususnya mahasiswa dan mahasiswi yang berada di lingkungan Universitas Palangkaraya. Buku-buku yang disediakan di perpustakaan Unpar seperti buku pelajaran sesuai jurusan, kamus, dan majalah serta panduan skripsi.
I. Sistem Perpustakaan Daerah (Pusda)
a. Prosedur Jasa Pelayanan Perpustakaan Badan Perpustakaan, Arsip, dan Dokumentasi Provinsi Kalimantan Tengah
1. Prosedur Pendaftaran Anggota Baru

2. Prosedur Perpanjangan Kartu Anggota

3. Prosedur Peminjaman Bahan Pustaka

4. Persyaratan Pembuatan Kartu Anggota Berdasrkan Perda Nomor 5 Tahun 2006
a. Fotokopi kartu identitas (KTP/SIM/Kartu Pelajar/Kartu mahasiswa : 1 (satu) lembar
b. Pas foto berwarna terbaru ukuran 2 x 3 : 3 (tiga) lembar
c. Membayar biaya administrasi : Rp 5.000,- (lima ribu)
Catatan: Jika persyaratan sudah lengkap dan tidak ada gangguan teknis, kartu anggota selesai dalam waku 90 menit.
5. Tata Tertib Anggota
a. Pinjaman buku maksimal : 2 (dua) eks
b. Jangka waktu peminjaman:
– Buku ilmiah (non-fiksi) : 2 (dua) minggu
– Buku fiksi : 1 (satu) minggu
c. Pengembalian buku tepat waktu yang sudah ditentukan
d. Bersedia membayar denda terlambat : Rp 500,-/buku/hari
e. Bersedia mengganti buku yang hilang / rusak senilai harga buku yang dipinjamkan yang berlaku pada saat itu dan mengganti judul yang sama ditambah biaya tambahan.
f. Tidak diperbolehkan memiliki kartu anggota perpustakaan lebih dari satu, dalam satu tahun keanggotaan.
g. Tidak diperbolehkan meminjamkan kartu anggota perpustakaan kepada orang lain.
6. Jam Layanan Perpustakaan
a. Senin – Kamis : 07.30 – 17.00 WIB
b. Jumat – pagi : 07.30 – 10.30 WIB
– sore : 13.30 – 17.00 WIB
c. Sabtu : 07.30 – 17.00 WIB

7. Tata Tertib Perpustakaan Daerah (wilayah)
a. Isi buku pengunjung.
b. Letakkan tas, jaket, topi, map, buku, pada tempat yang telah disediakan (rak).
c. Barang-barang berharga, harap dibawa atau dititipkan pada petugas.
d. Dilarang merokok dan membawa makanan ke dalam ruangan.
e. Berbicaralah yang sopan jangan sampai mengganggu ketenangan orang lain.
f. Jagalah kebersihan / buanglah sampah pada tempatnya.
g. Hanya lembaran kertas yang boleh dibawa masuk (untuk mencatat).
h. Tunjukkan kartu anggota perpustakaan Anda pada waku berkunjung.
i. Berpakaian harus rapi (baju dimasukkan).
b. Prosedur Pelaksanaan Magang dan Observasi Badan Perpustakaan , Arsip, dan Dokumentasi Provinsi Kalimantan Tengah
1. Prosedur Magang

2. Prosedur Observasi

II. Sistem Perpustakaan Unpar
1. Proses Pendaftaran Anggota Baru

2. Proses Perpanjangan Kartu Anggota

3. Prosedur Peminjaman Bahan Pustaka

4. Persyaratan Pembuatan Kartu Anggota
a. Fotokopi Kartu Mahasiwa (KTM) : 1 (satu) lembar
b. Pas foto 2 x 3 : 2 (dua) lembar
c. Membayar biaya administrasi : Rp 10.000,- (sepuluh ribu)
5. Tata Tertib Anggota
a. Peminjaman buku maksimal : 2 (dua) eks
b. Jangka waktu peminjaman : 1 (satu) minggu
c. Pengembalian buku tepat waktu yang ditentukan.
d. Bersedia membayar denda terlambat : Rp 500,-/buku/hari
e. Jam Layanan Perpustakaan
f. Senin – Kamis : 08.00 – 13.00 WIB
g. Jumat : 08.00 – 11.00 WIB
h. Sabtu : 08.00 – 13.00 WIB

6. Tata Tertib Perpustakaan Unpar
a. Isi buku pengunjung,
b. Letakkan tas, jaket, topi, map, buku, pada tempat yang telah disediakan (rak).
c. Barang-barang berharga, harap dibawa atau dititipkan pada petugas.
d. Dilarang merokok dan membawa makanan ke dalam ruangan.
e. Berbicaralah yang sopan jangan sampai mengganggu ketenangan orang lain.
f. Jagalah kebersihan / buanglah sampah pada tempatnya.
g. Haya lembaran kertas yang boleh dibawa masuk (untuk mencatat).
h. Tunjukkan kartu anggota perpustakaan Anda pada waku berkunjung.
i. Berpakaian harus rapi (baju dimasukkan).

Sosiolinguistik

Interferensi

Istilah imterferansi pertama kali digunakan oleh Weinreich (1953) untuk menyebut adanya perubahan sistem suatu bahasa sehubungan dengan adanya persentuhan bahasa tersebut dengan unsur-unsur bahasa lain yang dilakukan oleh penutur bilingual. Sedangkan penutur bilingual yaitu penutur yang menggunakan dua bahasa secara bergantian dan penutur multilingual yaitu penutur yang dapat menggunakan banyak bahasa secara bergantian. Weinreich menganggap bahwa interferensi sebagai gejala penyimpangan dari norma-norma kebahasaan yang terjadi pada penggunaan bahasa seorang penutur sebagai akibat pengenalannya terhadap lebih dari satu bahasa, yakni akibat kontak bahasa.
Dalam peristiwa interferensi digunakan unsur bahasa lain dalam menggunakan suatu bahasa, yang dianggap suatu kesalahan karena menyimpang dari kaidah atau aturan bahasa yang digunakan. Dan kemampuan penutur bilingual maupun penutur multilingual dalam menggunakan bahasa tertentu sehingga terpengaruh bahasa lain merupakan penyebab terjadinya interferensi. Kemampuan setiap penutur terhadap bahasa yang pertama digunakan dengan bahasa kedua itu bervariasi. Ervin dan Osgood (1965:139) menyatakan bahwa penutur berkemampuan berbahasa sejajar jika penutur bilingual mempunyai kemampuan terhadap bahasa 1 dengan bahasa 2 sama baiknya, artinya penutur bilingual tidak mempunyai kesulitan untuk menggunakan kedua bahasa itu kapan saja diperlukan, karena tindak laku kedua bahasa tersebut terpisah dan bekerja sendiri-sendiri. Sedangkan penutur berkemampuan bahasa majemuk yaitu penutur yang kemampuan berbahasa 2 lebih rendah atau berbeda dengan kemampuan berbahasa 1, artinya penutur mempunyai kesulitan dalam menggunakan bahasa 2 karena dipengaruhi bahasa 1. Hartman dan Stork (1972:15) tidak menyebut interferensi sebagai „pengacauan“ atau „ kekacauan“, melainkan „kekeliruan“, yang terjadi sebagai akibat terbawanya kebiasaan-kebiasaan ujaran bahasa ibu atau dialek ke dalam bahasa kedua.

Weinreich membedakan tipe interferensi dalam bidang fonologi menjadi: interferensi substitusi (penutur Bali), interferensi overdiferensiasi (penutur Tapanuli dan Jawa), interferensi underdeferensi (penutur Jepang), dan interferensi reinterpretasi (penutur Hawai). Ahli linguistik edukasional William Mackey berpendapat bahwa interferensi itu adalah gejala penggunaan unsur- unsur satu bahasa dalam bahasa lainnya ketika seorang penutur mempergunakan bahasa-bahasa itu. Faktor utama yang dapat menyebabkan interferensi itu antara lain adalah adanya perbedaan di antara bahasa sumber dan bahasa sasaran. Perbedaan yang tidak saja dalam struktur bahasa melainkan juga keragaman kosakatanya. Gejala itu sendiri terjadi sebagai akibat pengenalan atau pengidentifikasian penutur terhadap unsur-unsur tertentu dari bahasa sumber, kemudian memakainya dalam bahasa sasaran.
Di samping itu, setiap bahasa manapun tidak pernah berada pada satu keadaan tertentu. Ia selalu berubah sesuai dengan perubahan zaman. Setiap bahasa mempunyai caranya sendiri-sendiri dalam mengembangkan unsur-unsurnya itu. Proses perkembangan ini tergantung selain kepada unsur internal bahasa itu sendiri, yakni kesiapan bahasa menerima perubahan yang terjadi pada bahasa itu sendiri juga pada faktor eksternal bahasa, seperti tuntutan keadaan soaial budaya, tuntutan perkembangan IPTEK, tuntutan politik bahasa dan lain- lain.

Interferensi dianggap gejala yang sering terjadi dalam penggunaan bahasa. Di zaman modern ini, persentuhan bahasa sudah sedemikian rumit, baik sebagai akibat dari mobilisasi yang semakin tinggi maupun sebagai kemajuan teknologi komunikasi yang sangat pesat, maka interferensi dapat dikatakan sebagai gejala yang dapat mengarah kepada perubahan bahasa terbesar, terpenting dan paling dominan saat ini.

1.    Interferensi bunyi

Interferensi terjadi bila bila penutur itu mengidentifikasifonem sistem bahasa pertama (bahasa sumber atau bahasa yang sangat kuat mempengaruhi seorang penutur) dan kemudian memakainya dalam sistem bahasa kedua (bahasa sasaran). Dalam mengucapkan kembali bunyi itu, dia menyesuaikan pengucapannya dengan aturan fonetik bahasa pertama. Penutur dari jawa selalu menambahkan bunyi nasal yang homorgan di muka kata-kata yang dimulai dengan konsonan /b/, /d/, /g/, dan /j/, misalnya pada kata:
/mBandung/, /mBali/, /nDaging/, /nDepok/, /ngGombong/, /nyJambi/
dalam pengucapan kata-kata tersebut telah terjadi interferensi tata bunyi bahasa Jawa dalam bahasa Indonesia.

2. Interferensi Tatabahasa

Terjadi apabila seorang penutur mengidentifikasi morfem atau tata bahasa pertama dam kemudian menggunakannya dalam bahasa kedua. Interferensi tata bentuk kata atau morfologi terjadi bila dalam pembentukan kata-kata bahasa pertama penutur menggunakan atau menyerap awalan atau akhiran bahasa kedua.
Misalnya awalan ke- dalam kata ketabrak, seharusnya tertabrak, kejebak seharusnya terjebak, kekecilan seharusnya terlalu kecil
Dalam bahasa Arab ada sufiks -wi dan -ni untuk membentuk adjektif seperti dalam kata-kata manusiawi, inderawi, dan gerejani.

3. Interferensi Kosakata

Interferensi ini terjadi karena pemindahan morfem atau kata bahasa pertama ke dalam pemakaian bahasa kedua. Bias juga terjadi perluasan pemakaian kata bahasa pertama, yakni memperluas makna kata yang sudah ada sehingga kata dasar tersebut memperoleh kata baru atau bahkan gabungan dari kedua kemungkinan di atas.
Interferensi kata dasar terjadi apabila misalnya seorang penutur bahasa Indonesia juga menguasai bahasa Inggris dengan baik, sehingga dalam percakapannya sering terselip kata-kata bahasa Inggris, sehingga sering terjebak dalam interferensi.

Contohnya:
· Planningku setelah lulus SMA  melanjutkan kuliah.
· Mereka akan married minggu depan.
· Seorang penutur yang selain pintar berbahasa Indonesia juga pintar berbahasa Inggris.

4. Interferensi Tatamakna

Interferensi dalam tata makna dapat dibagi menjadi tiga bagian.
a. Interferensi perluasan makna atau expansive interference, yakni peristiwa penyerapan unsur- unsur kosakata ke dalam bahasa lainnya. Misalnya konsep kata Distanz yang berasal dari kosakata bahasa Inggris distance menjadi kosakata bahasa Jerman. Atau kata democration menjadi Demokration dan demokrasi.
b. Interferensi penambahan makna atau additive interference, yakni penambahan kosakata baru dengan makna yang agak khusus meskipun kosakata lama masih tetap dipergunakan dan masih mempunyai makna lengkap. Misalnya kata Father dalam bahasa Inggris atau Vater dalam bahasa Jerman menjadi Vati.
Pada usaha-usaha ‘menghaluskan’ makna juga terjadi interferensi, misalnya: penghalusan kata gelandangan menjadi tunawisma dan tahanan menjadi narapidana.
c. Interferensi penggantian makna atau replasive interference, yakni interferensi yang terjadi karena penggantian kosakata yang disebabkan adanya perubahan makna seperti kata saya yang berasal dari bahasa melayu sahaya.
Dengan contoh-contoh di atas maka dapat dibedakan antara campur kode dengan inteferensi. Campur kode mengacu pada penggunaan serpihan bahasa lain dalam suatu bahasa, sedangkan interferensi mengacu pada penyimpangan dalam penggunaan suatu bahasa dengan memasukkan sistem bahasa lain. Tetapi serpihan-serpihan berupa klausa dari bahasa lain dalam suatu kalimat bahasa lain masih bisa dianggap sebagai peristiwa campur kode dan juga interferensi.

Dari segi „kemurnian bahasa“, interferensi dapat „merusak“ bahasa. Dari segi pengembangan bahasa, interferensi merupakan suatu mekanisme yang sangat penting untuk memperkaya dan mengembangkan suatu bahasa untuk mencapai taraf kesempurnaan bahasa sehingga dapat digunakan dalam segala bidang kegiatan. Bahkan Hocket (1958) mengatakan bahwa interferensi merupakan suatu gejala terbesar, terpenting dan paling dominan dalam bahasa.
Kontribusi utama interferensi yaitu bidang kosakata. Bahasa yang mempunyai latar belakang sosial budaya, pemakaian yang luas dan mempunyai kosakata yang sangat banyak, akan banyak memberi kontribusi kosakata kepada bahsa-bahasa yang berkembang dan mempunyai kontak dengan bahasa tersebut. Dalam proses ini bahasa yang memberi atau mempengaruhi disebut bahasa sumber atau bahasa donor, dan bahasa yang menerima disebut bahasa penyerap atau bahas resepien, sedangkan unsur yang diberikan disebut unsur serapan atau inportasi.

Menurut Soewito (1983:59) interferensi dalam bahasa indonesia dan bahasa-bahasa nusantara berlaku bolak balik, artinya, unsur bahasa daerah bisa memasuki bahasa indonesia dan bahasa indonesia banyak memasuki bahasa daerah. Tetapi dengan bahasa asing, bahasa indonesia hanya menjadi penerima dan tidak pernah menjadi pemberi.

Sekurang- kurangnya ada tiga unsur penting yang mengambil peranan dalam terjadinya proses interferensi yaitu:
– Bahasa sumber (source language) atau biasa dikenal dengan sebutan bahasa donor. Bahasa donor adalah bahasa yang dominan dalam suatu masyarakat bahasa sehingga unsur-unsur bahasa itu kerapkali dipinjam untuk kepentingan komunikasi antar warga masyarakat.
– Bahasa sasaran atau bahasa penyerap (recipient). Bahasa penyerap adalah bahasa yang menerima unsur- unsur asing itu dan kemudian menyelaraskan kaidah- kaidah pelafalan dan penulisannya ke dalam bahsa penerima tersebut.
– Unsur serapannya atau importasi (importation). Hal yang dimaksud di sini adalah beralihnya unsur- unsur dari bahasa asing menjadi bahasa penerima.

Integrasi

Interferensi dan integrasi timbul sebagai akibat kontak bahasa, yakni pemakaian satu bahasa di dalam bahasa sasaran atau kebalikannya yang terjadi pada seorang penutur bilingual. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Perbedaannya adalah interferensi dianggap sebagai penyimpangan dalam penggunaan bahasa tulis maupun lisan yang terjadi pada suatu masyarakat bahasa, sementara integrasi tidak dianggap sebagai gejala penyimpangan dikarenakan unsur-unsur bahasa sumber itu telah disesuaikan dengan bahasa sasarannya dan dianggap sebagai perbendaharaan kata baru. Integrasi dipandang sebagai sesuatu yang diperlukan jika tidak ada padanan kata dalam bahasa sasaran.
Mackey (1968) menjelaskan bahwa integrasi adalah unsur-unsur bahasa lain yang digunakan dalam bahasa tertentu dan dianggap sudah menjadi warga bahasa tersebut. Mulanya seorang penutur menggunakan unsur bahasa lain sebagai unsur pinjaman karena merasa diperlukan, kemudian unsur asing yang digunakan itu bisa diterima dan digunakan juga oleh orang lain, sehingga unsur tersebut berstatus telah berintegrasi.

Proses penerimaan unsur bahasa asing, khususnya unsur kosakata, dalam bahasa Indonesia, awalnya dilakukan secara audial. Artinya, mula-mula penutur Indonesia mendengar butir-butir leksikal dari penutur aslinya, lalu mencoba menggunakannya (didengar-diujarkan-dituliskan). Oleh karena itu, kosakata yang diterima secara audial menampakkan ciri ketidakteraturan jika dibandingkan dengan kosakata aslinya.
Penyerapan unsur asing bukan hanya melalui penyerapan kata asing disertai penyesuaian lafal dan ejaan, tetapi dilakukan dengan cara: (1) penerjemahan langsung , artinya kosakata itu dicarikan padanannya dan (2) penerjemahan konsep, artinya, kosakata asing itu diteliti baik-baik konsepnya lalu dicarikan kosakata yang konsepnya dekat dengan kosakata asing tersebut. Jika sebuah kata serapan ada pada tingkat integrasi, maka kata serapan itu sudah disetujui dan proses yang terjadi dalam integrasi ini lazim disebut konvergensi. Setiap bahasa akan mengalami interfernsi kemudian disusul dengan peristiwa integrasi. Selain itu, tidak sedikit kosakata yang berasala dari satu bahasa lalu tersebar luas dan bersifat universal sehingga orang tidak merasa perlu menyerap sampai pada tingkat integrasi.

Integrasi dapat terjadi pada semua bidang linguistik suatu bahasa. Pada bidang kosakata dalam bahasa Indonesia misalnya muncul kata-kata seperti aljabar, bendera, fisika, jendela, kabar, kimia, matematika, mobil, pulpen, televisi, telepon, dan lain-lainl yang merupakan integrasi dari bahasa asing. Atau kata-kata seperti batik, cewek, cowok, jorok, nyeri, pantas, cacingan, dan lain sebagainya sebagai akibat peristiwa integrasi dari bahasa Indonesia.
Pada bidang morfologi terjadi pula peristiwa integrasi. Hal ini bisa diketahui dengan sering dipakainya kata-kata kabupaten, manunggal, praduga, wara-wiri, dan lain-lain yang berasal dari bahasa daerah. Juga kata-kata diskualifikasi, klasifikasi, dispensasi, interferensi, integrasi dan lain sebagainya adalah merupakan integrasi dari bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia.
Dalam bidang sintaksis contohnya Ayahnya si Ali sakit seharusnya Ayah si Ali sakit dan buku itu sudah dibeli oleh saya seharusnya buku itu sudah saya beli.

Kemungkinan akibat interferensi dan integrasi terhadap bahasa resipien :
1. Bahasa resipien tidak mengalami pengaruh yang bersifat mengubah sistem apabila tidak ada kemungkinan untuk mengadakan pembaruan atau pengembangan dalam bahsa resipien tersebut. Tetapi menurut Jakobson (1972:491) bahasa resipien akan mengalami penambahamn kosakata.
2. Bahasa resipien mengalami perubahan system pada subsistem fonologi, morfologi, sintaksis maupun subsistem lainnya. Bagi Weinreich (1968:1-2) interferensi mengandung pengertian penyusunan kembali pola-pola dasar donor menurut system bahasa resipien, sehingga interferensi memberi pengaruh bagi system bahasa resipien.
3. Kedua bahasa yang bersentuhan itu sama-sama menjadi donor dalam pembentukan alat komunikasi verbal baru yang disebut pijin.

 

Bahasa Indonesia jadi momok nasional evaluasi UN 2010

JAKARTA — Rata-rata mata pelajaran bahasa Indonesia menjadi momok bagi siswa SMA dan MA di semua jurusan. Biologi dan Sosiologi juga menyebabkan banyak siswa tidak lulus. Demikian diungkapkan Menteri Pendidikan Nasional (mendiknas) Muhammad Nuh setelah menelaah hasil ujian nasional (UN) 2010.

Nuh mengatakan, banyak siswa yang mengulang karena nilai salah satu mata pelajarannya, khususnya Bahasa Indonesia, tidak memenuhi syarat. “Mata pelajaran yang harus diulang bervariasi. Ada yang satu saja, tapi juga ada yang beberapa mata pelajaran. Satu di antaranya Bahasa Indonesia,” katanya.

Dari total 154.079 jumlah siswa yang mengulang alias mesti mengikuti UN ulangan, kata dia, 99.433 di antaranya dipastikan hanya mengulang satu mata pelajaran. Lainnya, lanjut Nuh, sebanyak 25.277 siswa harus mengulang dua mata pelajaran. Bahkan 930 siswa lainnya, terpaksa mengikuti UN ulangan untuk enam mata pelajaran sekaligus.

Anjloknya nilai Bahasa Indonesia untuk semua jurusan juga diakui Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendiknas, Prof Dr Mansyur Ramly. Menurut mantan rektor Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar ini, secara umum mata pelajaran yang paling banyak diulang memang Bahasa Indonesia.

Sebagai gambaran, jelasnya, untuk jurusan IPA, 46 persen siswa yang mengulang karena nilai UN Bahasa Indonesianya tidak memenuhi standar nasional. Disusul mata pelajaran Biologi (21,4 persen) dan Matematika (17,8 persen).

Di Jurusan IPS, tutur Mansyur, Sosiologi menjadi pelajaran yang tertinggi menyumbang angka ketidaklulusan. Meski terkesan mudah, kata dia, ternyata ada 21,2 persen siswa harus mengulang pelajaran tersebut. “Di jurusan ini, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris juga masih dianggap rumit,” lanjutnya.

Yang ironis, tambah Mansyur, justru di jurusan Bahasa, sebagian besar nilai siswa jatuh karena pelajaran Bahasa Indonesia. Hasil evaluasi kemendiknas, di jurusan ini, 25,7 persen siswa harus mengikuti UN ulangan akibat nilainya anjlok pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. “Ini fenomena yang menarik untuk dikaji,” ujarnya.

Di Makassar sendiri, Kepala Dinas Pendidikan Makassar Mahmud BM kepada Fajar seperti dilansir Senin 26 April kemarin, mata pelajaran yang jadi momok adalah Matematika.

Menurut Mahmud, berdasarkan hasil evaluasi Dinas Pendidikan Makassar, ketidaklulusan siswa SMK itu dipicu anjloknya nilai ujian matematika. “Nyaris semua yang tidak lulus disebabkan nilai matematikanya yang merah,” katanya.

Lantas, apa penyebab tingginya angka ketidaklulusan siswa tahun ini? Mendiknas M Nuh mengaku belum bisa memetakannya karena masih mengumpulkan laporan dari masing-masing provinsi. “Sekarang belum bisa dipetakan. Yang kami dahulukan sekarang adalah segera memberikan bimbingan sesuai kebutuhan sekolah,” kilahnya.

Yang jelas, menurut Nuh, ada beberapa hal yang menjadi penyebabnya. Antara lain, proses belajar mengajar yang tidak maksimal, kesadaran murid yang rendah, dan infrastruktur, serta sarana prasarana yang kurang memadai.

“Tapi mana yang menonjol, itu belum bisa disimpulkan. Kami masih menunggu laporan tiap sekolah. Dari situ nanti baru kami bisa melakukan intervensi kebijakan,” katanya.

Sumber: metronews.fajar.co.id

Pusat Bahasa dan Microsoft Alihkan 250 Ribu Kosakata

Pusat Bahasa menggandeng Microsoft untuk mengalihkan lebih dari 250.000 kosakata atau istilah bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Upaya ini memperkaya bahasa Indonesia dan memberi kemudahan generasi muda dalam memanfaatkan komputer dan mengakses teknologi informasi.

“Pengalihan kosakata atau istilah asing harus dilakukan secepatnya agar masyarakat tidak terjebak menggunakan bahasa asing,” kata mantan Kepala Pusat Bahasa Kementrian Pendidikan Nasional Dendy Sugono dalam Seminar Nasional Bahasa “Pemertahanan Bahasa Nusantara dalam Perspektif Lokal, Nasional dan Global” oleh Program Pascasarjana Universitas Diponegoro di Semarang, Kamis.

Pengalihan kosakata bidang ilmu teknologi ke dalam bahasa Indonesia jika tidak secepatnya dilakukan akan menimbulkan kendala. Sebab, pengalaman selama ini menunjukkan pengalihan kata/istilah bahasa Inggris yang telah lama digunakan ke bahasa Indonesia cenderung tidak diterima masyarakat.

Menurut Dendy perkembangan bidang teknologi telah mencapai kemajuan yang
amat berarti. Teknologi komputer misalnya, menghasilkan alat bantu kerja yang tidak hanya urusan tulis dan cetak. Tetapi, mampu menerobos teknologi komunikasi. Perpaduan kemajuan teknologi komputer dan teknologi komunikasi melahirkan kosakata/istilah baru di bidang itu.

Teknologi, baik perangkat lunak maupun perangkat keras datang dari mancanegara sehingga kosakata/istilah yang digunakan adalah bahasa asing. “Yang lebih banyak adalah bahasa Inggris,” kata Dendy.

Sumber: http://www.tempointeraktif.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.