Bahasa Indonesia jadi momok nasional evaluasi UN 2010

JAKARTA — Rata-rata mata pelajaran bahasa Indonesia menjadi momok bagi siswa SMA dan MA di semua jurusan. Biologi dan Sosiologi juga menyebabkan banyak siswa tidak lulus. Demikian diungkapkan Menteri Pendidikan Nasional (mendiknas) Muhammad Nuh setelah menelaah hasil ujian nasional (UN) 2010.

Nuh mengatakan, banyak siswa yang mengulang karena nilai salah satu mata pelajarannya, khususnya Bahasa Indonesia, tidak memenuhi syarat. “Mata pelajaran yang harus diulang bervariasi. Ada yang satu saja, tapi juga ada yang beberapa mata pelajaran. Satu di antaranya Bahasa Indonesia,” katanya.

Dari total 154.079 jumlah siswa yang mengulang alias mesti mengikuti UN ulangan, kata dia, 99.433 di antaranya dipastikan hanya mengulang satu mata pelajaran. Lainnya, lanjut Nuh, sebanyak 25.277 siswa harus mengulang dua mata pelajaran. Bahkan 930 siswa lainnya, terpaksa mengikuti UN ulangan untuk enam mata pelajaran sekaligus.

Anjloknya nilai Bahasa Indonesia untuk semua jurusan juga diakui Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendiknas, Prof Dr Mansyur Ramly. Menurut mantan rektor Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar ini, secara umum mata pelajaran yang paling banyak diulang memang Bahasa Indonesia.

Sebagai gambaran, jelasnya, untuk jurusan IPA, 46 persen siswa yang mengulang karena nilai UN Bahasa Indonesianya tidak memenuhi standar nasional. Disusul mata pelajaran Biologi (21,4 persen) dan Matematika (17,8 persen).

Di Jurusan IPS, tutur Mansyur, Sosiologi menjadi pelajaran yang tertinggi menyumbang angka ketidaklulusan. Meski terkesan mudah, kata dia, ternyata ada 21,2 persen siswa harus mengulang pelajaran tersebut. “Di jurusan ini, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris juga masih dianggap rumit,” lanjutnya.

Yang ironis, tambah Mansyur, justru di jurusan Bahasa, sebagian besar nilai siswa jatuh karena pelajaran Bahasa Indonesia. Hasil evaluasi kemendiknas, di jurusan ini, 25,7 persen siswa harus mengikuti UN ulangan akibat nilainya anjlok pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. “Ini fenomena yang menarik untuk dikaji,” ujarnya.

Di Makassar sendiri, Kepala Dinas Pendidikan Makassar Mahmud BM kepada Fajar seperti dilansir Senin 26 April kemarin, mata pelajaran yang jadi momok adalah Matematika.

Menurut Mahmud, berdasarkan hasil evaluasi Dinas Pendidikan Makassar, ketidaklulusan siswa SMK itu dipicu anjloknya nilai ujian matematika. “Nyaris semua yang tidak lulus disebabkan nilai matematikanya yang merah,” katanya.

Lantas, apa penyebab tingginya angka ketidaklulusan siswa tahun ini? Mendiknas M Nuh mengaku belum bisa memetakannya karena masih mengumpulkan laporan dari masing-masing provinsi. “Sekarang belum bisa dipetakan. Yang kami dahulukan sekarang adalah segera memberikan bimbingan sesuai kebutuhan sekolah,” kilahnya.

Yang jelas, menurut Nuh, ada beberapa hal yang menjadi penyebabnya. Antara lain, proses belajar mengajar yang tidak maksimal, kesadaran murid yang rendah, dan infrastruktur, serta sarana prasarana yang kurang memadai.

“Tapi mana yang menonjol, itu belum bisa disimpulkan. Kami masih menunggu laporan tiap sekolah. Dari situ nanti baru kami bisa melakukan intervensi kebijakan,” katanya.

Sumber: metronews.fajar.co.id

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: